Wisata Religi Bali
SEWAKTU
mendengar, bahwa di atas puncak Bukit Bedugul, Kabupaten Tabanan Provinsi Bali
dikabarkan ada makam seorang Waliyulloh, spontan tergerak untuk
datang ke sana dengan niat menelusuri keberadaan makam tersebut. Bersama dua
orang kawan, akhirnya meluncur ke Bedugul guna memastikan kabar yang
membuat penasaran.
Karena
yang dituju bukit Bedugul di Kabupaten Tabanan, selepas Pelabuhan Gilimanuk,
mengambil rute lewat Singaraja. Setelah melalui jalan berkelok-kelok dan
naik turun yang cukup curam, akhirnya sampai juga di kawasan Bedugul yang
dikenal masyarakat luas sebagai obyek wisata danau itu. Tapi tujuannya
bukan melihat danau, melainkan menuju bukit atau gunung yang berada di wilayah
Bedugul.
Mengingat
tiba di Bedugul sekitar pukul 17.00 (5 sore) waktu Bali, langkah pertama
diputuskan mencari penginapan. Ternyata di kawasan wisata ini tidak sulit untuk
mendapatkan penginapan yang bertarif standar. Setelah beristirahat sejenak serta
sholat magrib, langkah kedua mencari informasi tentang bukit Bedugul. Seorang
warga setempat menunjuk sebuah gunung sambil berucap, “Itu Bukit Bedugul.”
Ternyata tidak jauh dari lokasi penginapan.
Selanjutnya,
mencari rumah juru kunci makam. Tidak begitu sulit mencari rumah
sang kuncen makam, saat itu bisa ketemu bernama Pak Faridin. Lantas
disampaikanlah rencana pendakian ke atas Bukit Bedugul untuk bisa mencapai
cungkup makam keramat yang menurut versi Pak Faridin bernama Syech Maulana
Reden Hasan.
Pak
Kuncen menyarankan agar mendaki pagi hari esoknya, lantaran untuk pendaki
pemula sampai di puncak bukit minimal membutuhkan waktu 3 jam.
“Sebaiknya
naik besok saja pagi-pagi,” saran Pak Faridin. Tapi sayangnya, waktu itu Pak
Faridin dengan berat hati tidak bisa mendampingi pendakian karena bersamaan ada
hajatan famimilinya di Denpasar. Pengganti sebagai petunjuk jalan keponakannya.
Seperti yang direncanakan, sekitar pukul 07.00 pagi waktu setempat, pendakian
dimulai. Kami bertiga dengan pemandu jalan memulai pendakian.
Untuk
bisa mendaki puncak bukit Bedugul harus melewati areal Kebun Raya Bedugul.
Awalnya terasa biasa, namun sekitar 15 menit perjalanan sudah terlihat
tantangan yang cukup berat. Pasalnya suasananya benar-benar masih hutan
belantara. Waktu itu pikiran pas saja dan pasrah kepada Allah SWT dan selalu
wirid doa keselamatan kepada-Nya.
Semakin
naik, medan semakin ekstrim lantaran kemiringan pendakian ada yang hampir 85
derajat. Untungnya pada kemiringan ekstrim itu sudah tersedia tali untuk pegangan.
Dalam hati, jamaah peziarah sangat sulit bisa mencapai puncak sebab jalurnya
cukup berat, apalagi jamaah wanita sangat sulit sekali bisa melampau jalur
tersebut. Ketika istirahat kecapekan dalam pendakian, mendapat petunjuk
gaib yang intimya agar sabar dan yakin mampu melampaui pendakian hingga
sampai ke puncak. Pesan gaib lainnya yang tidak kalah penting, selama
perjalanan pendakian tidak boleh guyon dan
bicara yang tidak pada tempatnya.
Pesan
gaib ini benar-benar harus diamalkan. Syukur alhamdulillan pukul 10.05
berhasil sampai di cungkup makam Syech Maulana Raden Hasan.
Setiba
di cungkup makam, kami wudhu dengan air hujan yang ditampung di tong. Air
bersih yang tersedia satu satunya dari air hujan dan embun. Usai
berwudhu, istirahat sejenak lantas masuk ke cungkup makam dan bertawasul.
Sekitar 30 menit kemudian, ada aura positif datang menghampiri kami.
Terjadilah
dialog batin antara kami dengan aura positif selama hampir 15 menit.
”Yang rawuh tadi mengaku
bernama Raden Hasan, masih keturunan seorang pembesar kerajaan Islam di Jawa
Tengah, ini makam beliau,” tutur Sumarja seorang dari kami. Selain pesan
itu, Murdiyanto kawan satunya menerima petunjukyang
isinya agar dengan ikhlas mau mengganti nisan makam Raden Hasan dengan nisan
yang baru, dimana bentuknya mirip dengan nisan seorang sultan di Jawa
Tengah.
Sebenarnya banyak pesan
atau nasehat dalam kontak gaib tersebut, namun tidak bisa dijlentrehkan semua
di tulisan ini. Sebagian besar dawuh mengenai
soal tauhid yakni ketakwa’an dan keimanan kepada Allah SWT. Ada juga ‘info’
mengenai makhluk tidak kasad mata, diantaranya dua ekor harimau putih. Binatang
gaib ini konon penjaga bukit Bedugul.
Ikhtiar
dan perjuangan mendaki bukit Bedugul bersama kedua kawan spiritual membawa
hasil. Mendapat petunjuk perihal jati diri makam keramat bukit Bedugul. Bagi
kami petunjuk tersebut sangat diyakini, meski demikian tidak memaksakan kepada
orang lain untuk meyakininya.
Hasil
kontak gaib tersebut atau kontak batin bukanlah sesuatu fakta yang harus
diyakini atau diakui kebenarannya oleh orang lain. Mengingat kemampuan dan
keyakinan sertiap orang tidak sama, sehingga tiap individu mempunyai hak
pribadi untuk menilai atau berpendapat sesuai kemampuannya masing-masing.
Yang
terpenting, perjalanan spiritual menelusuri makam keramat puncak bukit
Bedugul di Pulau Dewata yang saat ini sedang dipopulerkan salah satu
makam “Wali Pitu Bali“ ini sudah mendapatkan jawabannya.
Tentunya jawaban dimaksud hanya untuk kami, pelaku spiritual di Padepokan
Lintang Songo.
Bagi
kami, istilah Wali Pitu Bali yang telah dipopulerkan dan telah diziarahi
oleh banyak orang, khususnya dari Jawa biarlah mengelinding. Perjalanan
spiritual di makam waliyullah tersebut juga telah mendapatkan hasil yang
tentunya untuk kepentingan pribadi. Sebagai catatan, saat bertawasul di
makam keramat tersebut, berhasil kontak gaib sehingga dapat petunjuk
perihal jati diri sosok yang bersemayam di makam itu. Pak Faridin sang juru
kunci mengaku mendapat petunjuk namanya Syech Maulana Raden Hasan. Sedangkan
kami dari hasil dialog gaib mendapat nama Raden Hasan.
Sementara
secara dhohir, pandangan mata ketika mengamati cungkup makam keramat
Bukit Bedugul terlihat sangat sederhana. Sempat kagum terhadap orang muslim
yang sudih membangun cungkup makam tersebut. Menurut Pak Faridin sang juru
kunci, menuturkan terwujudnya cungkup makam di puncak Bukit Bedugul berkat
ridho Allah SWT. Tentunya perjuangan manusia dibutuhkan agar pembangunan
cungkup itu terwujud. Sehingga dibutukan keikhlaskan siapa saja yang hendak
bertawasul di makam Raden Hasan, mau menyangking pasir dikantong plastik dari
bawah bukit hingga puncak.
“Hal
itu tergantung keikhlasan peziarah, yang merasa mampu Insya Allah mau membawa
pasir itu meski hanya satu kantong plastik yang beratnya sekitar 3 Kg,”
kata Pak Faridin. Selain pasir juga ada batu bata yang sudah diikat dengan tali
rafia berjumlah 4 batang setiap satu ikatan. Demikian juga dengan semennya
dipak sedikit-sedikit.
Masih membahas mengenai islam, dalam islam
tentunya terdapat bangunan yang dijadikan sebagai tempat ibadah, yakni masjid.
Dalam masjid sendiri tentunya terdapat beberapa perlengkapan yang tersedia
bukan? Nah salah satu perlengkapan masjid yaitu jam digital masjid. Kami juga
memiliki produk jam digital masjid sendiri. Ada beberapa toko yang menyediakan
perlengkapan masjid yang satu ini, salah satunya toko jam digital masjid
kabupaten klaten jawa tengah. Produk jam digital masjid kami sudah terbukti dan
terpercaya. Jadi bagi Anda yang berminat atau yang ingin tahu lebih lanjut
mengenai produk kami dapat kunjungi website kami di www.jadwaldigital.com
Sumber::
Komentar
Posting Komentar